Catching Dragonfly

0 komentar

I really wanna write about my childhood memory now. Indeed, that period is an exactly memorable one. Despite the fact that I used to live in my beautiful countryside.

Well, I'll start from hmmmhhh... talking about my boyhood games, traditional-motoric  plays, seems interesting enough.  Yeah, it is.

Have you found dragonflies hovering around your head at your surroundings? You jumped up trying to catch them, or even tracked them down till you slip yourself? Hhhhhhhh...... I used to get to accustom to do it.

As far as I'm concern, there were ways to catch dragonflies I used to do.

#1. Move your best hand to grab it as fast as lightning, if you could 😄. This is a very conservative method. Once you're not fast enough, sorry you've got fail!

#2. Bring your dragnet (I'm not sure bout this word). Yes, just pick this way as your final chosen in order to not being mocked by your friends hhhhhhhh... Using a net is just for city's children or a very youngest boy I think. We the agile villagers did not use real tools. LoL.

#3. Hmmmmmh... Before you catch a dragonfly it seems better to eat jackfruit. Well, don't get me wrong. Besides you'll test that delicious typically Asian fruit, you can use its latex to make an effective trap/tool. It's very simple, just put some of its sap at the edge of a 'lidi' (a stick generated from back part of coconut's leaf) or just take random thin sticks. Furthermore, you can directly catch the insect buy touching the sticky 'lidi' to its body or just plant the stick on the ground while waiting the hunted animals to pearch. You may try both! 😄

#4. The last one I used to do is a mix method hhhhhhhh... It's the first method (find and grab a smaller type of dragonflies [indeed, they're exist]), then tied the tail of it by a string while the other edge of the thread bond to a 'lidi' stick. Perfect! Since the insect is cannibal now you have an absolutely perfect bait. Don't worry if there is none of the insects trapped, playing the decoy tool is already fun as well. Surely, we call it a traditional 'remote controlled' play. 😄

_____________________
A rainy afternoon, Ciamis, November 24th.

DeJa Vu

0 komentar

Awalnya saya ragu untuk menyampaikan cerita ini, lebih tepatnya, untuk mengizinkan penulis mengisahkan kembali cerita ini. Saya takut ini menjadi ‘aib bagi Pondok yang saya cintai, Kampus Biru, Darussalam. Namun setelah berdiskusi panjang, dan pada kesimpulan bahwa agar ini menjadi pelajaran- ‘ibrah untuk pembaca-khususnya para santri. Dan saya yakin, jika pembaca dan para santri membaca hingga akhir cerita, pasti akan tahu ‘ibrah yang saya maksud. 

Beberapa nama dan tempat kejadian sudah penulis samarkan, dan memang setelah draf naskahnya saya baca, ada beberapa fragmen cerita yang didramatisir oleh penulis. Tetapi inti cerita yang saya harapkan menjadi ‘ibrah itu tetap terjaga. Akhirnya saya setuju dengan naskah cerita sebagaimana yang anda baca saat ini. 

Terimakasih saya ucapkan kepada penulis yang rela berwara-wiri menjumpai saya, tentu di tempat seperti ini saya tak bisa menjamunya dengan baik. Tempat seperti yang saya tinggali sekarang ini, mudah-mudahan tidak akan pernah ditempati santri-santri lain seperti saya.
-.-.-.-.-.- -.-.-.-.- 

[11.20] WIB 
Peluhku terus mengalir, semilir udara dari mesin pendingin tak jua mampu menghentikannya. Udara memang sedang terik, saat ini matahari hampir tepat di atas kepala. Tapi, bukan itu yang membuat peluhku tak henti mengucur, toh mesin pendingin ruangan sudah kusetel hingga enambelas derajat celcius. 

Ini keputusan berat bagiku. Ini berkaitan dengan segala hal, termasuk nuraniku. Tunis, Bendahara Umum Partai dan Ade Sang Sekjen masih menunggu keputusanku. Ini seperti de javu kejadian dua puluh tahun silam di Kamar Al-Juwainy. Saat Neo dan kawan-kawan menunggu keputusanku. Di kamar tersempit Asrama Asy-Syafi’i, Pondok Pesantren Darussalam, di almamaterku itu cerita bermula. 
***

“Ayolah Pek…”. Borneo terus saja membujukku. Dari beberapa saat lalu aku masih bergeming, masih ragu. Aku tak ingin Suu-ul Khaatimah, pikirku. Predikat sebagai santri teladan, tak ingin kuakhiri dengan meruntuhkannya, terkena ta’zir dan disaksikan seluruh santri. Yang lebih buruk, surat kelulusan ditahan pondok. 

“Kapan lagi Nul? Bulan depan kita 'dah gak bakalan di sini lagi. Ini bakal jadi kenangan kita. Yang terakhir, mungkin!”. Imran mencoba meyakinkanku. Kata-katanya membuat jarum timbangan akalku bergoyang-goyang. Iya juga ya? Coba saja! Sekali saja! Sekali dan yang terakhir deh! 

“Eh Pek, jadi santri itu janganlah luruuuuus jak terus. Sekali-kali bengkok siket ngape? nakal siket tak ape lah…”. lagi-lagi Borneo memprovokasiku. Seakan menguatkan kalimat demi kalimat yang tadi Imran sugestikan padaku. Coba! Ayo coba! Coba saja! Sekali-kali! 

Pek, kalau kau tak pernah nakal neh, kelak kau tak akan punya cerita menarik, kau cerita ke anak-anakmu hanya ngaji-sekolah-tidur. Ngaji lagi, ngaji lagi, sekolah lagi,sekolah lagi apa menariknya?” 

“Iyah Nul, cerita yang seru-seru itu biasanyah yang agak nakal-nakal gituh. Bener tuh kata Si Neo, kalo cuma ngaji-sekolah-tidur mah nggak ada seru-serunyah”. 

Dahsyat sekali kata-kata Si Irfan barusan. Mengguncang-guncang pikiranku, jika tadi Imran sudah menggoyang-goyangnya seperti jarum timbangan, maka apa yang disampaikan Irfan baru saja, seperti gambar di TV Ceu Yayah yang terguncang. Gambar TV di kantin itu biasanya jumpalitan saat ada angin kencang atau saat sepeda motor mendekat lewat. Semakin angin bertiup kencang atau semakin dekat motor dengan kantin, gambar pun semakin kencang berjumpalitan. 

Apa yang Neo bilang, yang dibuat lebih bombastis oleh Irfan itu diamini juga oleh akalku. Sejak tiga tahun yang lalu, sejak mulai mondok aku tak pernah berani “seru-seruan”, seperti yang mereka bilang. Selalu nurut dengan aturan pesantren. Aktivitasku hanya rutinitas ngaji-sekolah-tidur. Apa menariknya kalau kuceritakan nanti? 

Tak ada cerita tidur di atap kamar mandi saat yang lain dengan rasa kantuk harus jama’ah shubuh, atau kucing-kucingan dengan pengurus pondok saat para santri kuliah shubuh. Tak ada cerita didisplay di depan seluruh santri putera dan puteri sambil di jewer Kang Haji Hasan, ta’zir bagi yang minggu sebelumnya bolos pengajian Adabun Nabawy, atau cerita berendam di kolam sementara jama’ah kuliah shubuh yang pulang melewati kolam sambil mesem-mesem melihat ke arahku. Cuma ngaji-sekolah-tidur, Apa serunya?. 

“Ayo Nul, sekali-kali lah… tunjukin kalau kita selalu solid. Bersama kita bisa! Kalow kata Tim Kampanye Pak SBY mah. Lagian bentar lagi kita juga lulus, demi tetap menjaga kesolidan anak-anak Asy-Syafi’i lah... sekali-kali melanggar aturan pondok nggak apa-apa Nul…”. Kata Dadan. Coba! Sekali-kali… Cuma sekali ini saja! Tunjukin kalau kamu punya solidaritas! Semakin kuat saja bisikan-bisikan itu. Apa salahnya sekali-kali melanggar nidzham pondok?.

Bersambung...

Noura

0 komentar

be my noura!
kau seperti hujan pertama | dan aku anak kecil yang asyik denganmu | tanpa tahu demam 'kan datangi aku, malam-malam

andai,
mentari enggan terang esok dan esok lagi | aku hanya ingin menitip pesan pada awan: di balikmu aku tahu, mentari harus rindu padaku
 
tahukah?
namamu mulai menyerang warasku lagi | lebih sering... lebih sering
senyummu semakin lagi kurindui | kutasbihi... syukuri 

sadarkah? 
aku di sini sedang gagap mengeja hati
mengikuti cinta atau alunan satir | mencipta telaga atau mengundang banjir

kupandang-pandangi lagi lukisan lama | masih tak mengerti | di titik mana garis-garis kuas kita tautkan rasa | atau semuanya fatamorganaku saja? 

aku tak tahu jika kau merupa pada kanvas yang lebih pantas | senaifku yang lena dengan kuas bulu unggas

walau nyatanya dunia kita beda | percayalah, cinta ini bukan karena dia
dia... dialah yang sesungguhnya pesaing yang lalim padaku
yang membuat langkah ini selalu tertahan | kencang lariku menjadi pelan
padahal, aku begitu takut atas keterlambatan | ingin cepat-cepat menemuimu | menjagamu dari lian

it was true.. whenever you stays beside me, is my home



Muqoddimah

0 komentar


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillaah, malam tadi itu (15/1) sungguh menyenangkan, berkumpul dengan ‘aalim yang cerdik-pandai, melingkar dalam satu majlis, menyampaikan ilmu dan menerima ilmu. Yang luar biasa bahwa di majlis ini santri-santrinya itu seorang mu’allim, bahkan ada seorang muballigh senior. Duduk bersama dengan orang-orang besar tentu sangat luar biasa bagi ane. Inilah majlis yang sudah lama ane rindukan. Bisa ngaji kembali, jadi santri lagi, mendapatkan ilmu dan saling nasehat-menasehati.

Buku yang kami kaji tiap Selasa malam ini berjudul “Al-Jadaawil Al-Jaami’ah fii Al-‘Uluum An-Naafi’ah”. Pertamakalinya sangat asing terdengar di telinga, ma'lum sudah lama tak bergaul dengan buku-buku berbahasa Arab. Tapi, mendengar sinopsis tentang buku ini dari Ustadz Anton, ane langsung semangat 45 untuk ikut ngaji. Apalagi kajian ini diampu oleh ‘aalim lulusan Universitas Ummul Quro, Madinah, Ustadz Ridwan Hamidi.

Buat, Nouramates semuah… insyaa Allooh bisa mantengin hasil kajiannya. Akan  coba ane sajikan dengan bahasa yang seenak mungkin dikunyah nalar, bahkan oleh yang biasa baca buku-buku “ringan”. Meski, sepertinya butuh perjuangan khusus agar bisa demikian. Pasalnya—buku yang dikaji adalah buku yang merangkum beberapa ilmu sebagai berikut:

  • Al-Fiqh;
  • Ushuul Al-Fiqh;
  • Al-Qowaa’id Al-Fiqhiyyah;
  • Al-‘Aqiidah;
  • Al-Milal wa An-Nihal;
  • ‘Uluum Al-Quraan;
  • ‘Ilm At-Tajwiid;
  • Manaahij At-Tafsiir;
  • ‘Ilm Mushtholah Al-Hadiits;
  • ‘Ilm At-Takhriij wa At-Ta’arruf ‘alaa Kutub Al-Hadits;
  • ‘Ilm An-Nahwi.


Do’akan saja semoga ane bisa istiqomah mengikuti kajian ini, diberi kemudahan dalam memahaminya, diberikan kesehatan dan dihindarkan dari sifat malas agar bisa membagikannya pada Nouramates semuah…

Ustadz Ridwan dalam muqoddimah menyampaikan: “Siapa saja yang mengkaji buku ini, harapannya bisa mempelajari Islam secara SHAHIH dan SYAAMIL”. Ya, menurut beliau kedua syarat ini sangat penting. Mengapa? Dengan mempelajari Islam secara shahih, benar dan otentis pasti buah pikiran keIslamannya pun akan shahih. Begitu juga, belajar Islam itu harus syaamil, menyeluruh, komprehensif hingga tidak akan serampangan dalam beristinbath, membuat produk hukum syar’i.

Nah, bagi Nouramates yang ingin mantengin kajian ini bisa langganan rubrik “Nyantri” di lapak ini. Insyaa Allooh di update per-pekan. Semoga bermanfa’at. Amien.  

Pemuda Masjid Zaman Ini*

0 komentar

Progresif itu pemuda, pemuda itu harus progresifKalimat inilah yang saya pilih untuk menunjukan siapa pemuda itu? Aktif, bergerak dan menggerakan, menjadi pionir untuk merubah stagnasi atau menjadi minyak pelumas bagi mesin yang sudah aus dimakan usia begitulah seharusnya pemuda. 

Progresifitas seorang pemuda hanya akan timbul jika si pemuda tersebut memiliki daya respon yang tinggi dengan kondisi sekitarnya. Daya respon yang dimaksud tentu adalah respon terhadap isu-isu aktual dan problematika yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negaranya. Seorang pemuda tidak layak abai dengan problematika masyarakat-bangsanya karena di masa depan merekalah yang akan memikul tanggungjawab, melanjutkan dan menentukan ke mana bangsanya akan melangkah.

Adapun masjid dalam tradisi muslim selalu merupakan pusat peradaban atau paling tidak selalu menjadi titik tolak dan sumber kembali dalam hidup dan kehidupan. Yang demikian itu dicontohkan oleh Rasulullah dan disimbolkan dalam peristiwa Hijrahnya bersama umat Islam ke Madinah. Salah pertama yang dilakukan Rasulullah adalah membangun masjid. Ini bukti, contoh dari Rasulullah untuk ummatnya bahwa dalam membangun masyarakat-bangsa masjid punya peran signifikan. 

Mengapa masjid? Secara etimologi masjid adalah tempat bersujud, tempat dimana seseorang merendahkan dan menghambakan diri di hadapan penciptanya Yang Segala Maha. Ini adalah simbol bahwa dalam menjalani kehidupan, satu hal yang harus selalu diingat oleh Ummat adalah bahwa ada Yang Maha Segala di semesta ini. Mengawali sesuatu menjadi optimis karena percaya ada Yang Segala Maha dipihak kita, begitu juga saat ada permasalahan akan kebih tenang dalam menghadapinya karena yakin tidak akan ada yang tidak bisa untuk Sang Segala Maha.

Berdasarkan hal tersebut dalam kesempatan ini, saya sampaikan beberapa gagasan bagaimana idealnya seorang pemuda masjid (muslim) dalam berkontribusi terhadap ummat, bangsa dan negaranya:

1). Memantapkan jadi dirinya sebagai muslim; ini menjadi starting point. Muslim saat ini selalu bersifat inferior, segala hal dari barat (Eropa/Amerika) selalu dianggap lebih baik. Para sarjana gemar mengutip karya-karya barat dan terkesan malu jika harus mengutip karya-karya peninggalan cendekiawan muslim. Tetapi ini juga tidak berarti kita anti-barat, sebagaimana budayawan Emha Ainun Najib[1], mestinya dalam ber-ummat ini: "Jowone digowo, Arab digarap, Barat diruwat". Ya, kita akui modernitas saat ini dinahkodai barat karenanya kita tidak boleh anti jika tidak ingin ditinggalkan zaman. Tetapi ada hal yang harus kita ruwat dari modernitas ala barat itu. Alat untuk meruwatnya tidak lain adalah kejawaan (keindonesiaan) dan kearaban (keislaman) kita;

2). Dalam bangsa yang majemuk seperti NKRI ini, pemuda masjid ada baiknya mengembangkan gagasan (Alm.) K.H. Irfan Hielmy[2] yaitu menjadi Muslim Moderat, Mukmin Demokrat dan Muhsin Diplomat. Bila setiap pemuda masjid mengembangkan sikap ini, maka akan terbentuklah kesatuan pemuda progresif yang cakap bernegara;

3). Pemuda Masjid menjadi role-model/trend-setter bukan malah membebek budaya populer. Ingat, "Almuslimu yuatstsir wa laa yataatstsar" bukan tipikal muslim menjadi pengekor, muslim itu beridentitas dan berjiwa teladan;

4). Dan, sebagai langkah konkret, saya mengusulkan agar dibentuk jaringan pemuda masjid. Jaringan ini yang akan mengawal kegiatan masjid menjadi lebih progresif, satu visi (tentu dengan kelebihan masing-masing) sehingga lebih kontributif terhadap ummat, bangsa dan negara. 



*Disampaikan dalam Sarasehan Pemuda Masjid se- Daerah Istimewa Yogyakarta di Laboratorium Agama Universuitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 23 Desember 2012.

[1] Disampaikan dalam Sarasehan Santri CSS MORA Universitas Gadjah Mada; “Kontribusi Santri untuk NKRI”, 15 Desember 2012.
[2] Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, Ciamis, Jawa Barat.