DeJa Vu

0 komentar

Awalnya saya ragu untuk menyampaikan cerita ini, lebih tepatnya, untuk mengizinkan penulis mengisahkan kembali cerita ini. Saya takut ini menjadi ‘aib bagi Pondok yang saya cintai, Kampus Biru, Darussalam. Namun setelah berdiskusi panjang, dan pada kesimpulan bahwa agar ini menjadi pelajaran- ‘ibrah untuk pembaca-khususnya para santri. Dan saya yakin, jika pembaca dan para santri membaca hingga akhir cerita, pasti akan tahu ‘ibrah yang saya maksud. 

Beberapa nama dan tempat kejadian sudah penulis samarkan, dan memang setelah draf naskahnya saya baca, ada beberapa fragmen cerita yang didramatisir oleh penulis. Tetapi inti cerita yang saya harapkan menjadi ‘ibrah itu tetap terjaga. Akhirnya saya setuju dengan naskah cerita sebagaimana yang anda baca saat ini. 

Terimakasih saya ucapkan kepada penulis yang rela berwara-wiri menjumpai saya, tentu di tempat seperti ini saya tak bisa menjamunya dengan baik. Tempat seperti yang saya tinggali sekarang ini, mudah-mudahan tidak akan pernah ditempati santri-santri lain seperti saya.
-.-.-.-.-.- -.-.-.-.- 

[11.20] WIB 
Peluhku terus mengalir, semilir udara dari mesin pendingin tak jua mampu menghentikannya. Udara memang sedang terik, saat ini matahari hampir tepat di atas kepala. Tapi, bukan itu yang membuat peluhku tak henti mengucur, toh mesin pendingin ruangan sudah kusetel hingga enambelas derajat celcius. 

Ini keputusan berat bagiku. Ini berkaitan dengan segala hal, termasuk nuraniku. Tunis, Bendahara Umum Partai dan Ade Sang Sekjen masih menunggu keputusanku. Ini seperti de javu kejadian dua puluh tahun silam di Kamar Al-Juwainy. Saat Neo dan kawan-kawan menunggu keputusanku. Di kamar tersempit Asrama Asy-Syafi’i, Pondok Pesantren Darussalam, di almamaterku itu cerita bermula. 
***

“Ayolah Pek…”. Borneo terus saja membujukku. Dari beberapa saat lalu aku masih bergeming, masih ragu. Aku tak ingin Suu-ul Khaatimah, pikirku. Predikat sebagai santri teladan, tak ingin kuakhiri dengan meruntuhkannya, terkena ta’zir dan disaksikan seluruh santri. Yang lebih buruk, surat kelulusan ditahan pondok. 

“Kapan lagi Nul? Bulan depan kita 'dah gak bakalan di sini lagi. Ini bakal jadi kenangan kita. Yang terakhir, mungkin!”. Imran mencoba meyakinkanku. Kata-katanya membuat jarum timbangan akalku bergoyang-goyang. Iya juga ya? Coba saja! Sekali saja! Sekali dan yang terakhir deh! 

“Eh Pek, jadi santri itu janganlah luruuuuus jak terus. Sekali-kali bengkok siket ngape? nakal siket tak ape lah…”. lagi-lagi Borneo memprovokasiku. Seakan menguatkan kalimat demi kalimat yang tadi Imran sugestikan padaku. Coba! Ayo coba! Coba saja! Sekali-kali! 

“Pek, kalau kau tak pernah nakal neh, kelak kau tak akan punya cerita menarik, kau cerita ke anak-anakmu hanya ngaji-sekolah-tidur. Ngaji lagi, ngaji lagi, sekolah lagi,sekolah lagi apa menariknya?” 

“Iyah Nul, cerita yang seru-seru itu biasanyah yang agak nakal-nakal gituh. Bener tuh kata Si Neo, kalo cuma ngaji-sekolah-tidur mah nggak ada seru-serunyah”. 

Dahsyat sekali kata-kata Si Irfan barusan. Mengguncang-guncang pikiranku, jika tadi Imran sudah menggoyang-goyangnya seperti jarum timbangan, maka apa yang disampaikan Irfan baru saja, seperti gambar di TV Ceu Yayah yang terguncang. Gambar TV di kantin itu biasanya jumpalitan saat ada angin kencang atau saat sepeda motor mendekat lewat. Semakin angin bertiup kencang atau semakin dekat motor dengan kantin, gambar pun semakin kencang berjumpalitan. 

Apa yang Neo bilang, yang dibuat lebih bombastis oleh Irfan itu diamini juga oleh akalku. Sejak tiga tahun yang lalu, sejak mulai mondok aku tak pernah berani “seru-seruan”, seperti yang mereka bilang. Selalu nurut dengan aturan pesantren. Aktivitasku hanya rutinitas ngaji-sekolah-tidur. Apa menariknya kalau kuceritakan nanti? 

Tak ada cerita tidur di atap kamar mandi saat yang lain dengan rasa kantuk harus jama’ah shubuh, atau kucing-kucingan dengan pengurus pondok saat para santri kuliah shubuh. Tak ada cerita didisplay di depan seluruh santri putera dan puteri sambil di jewer Kang Haji Hasan, ta’zir bagi yang minggu sebelumnya bolos pengajian Adabun Nabawy, atau cerita berendam di kolam sementara jama’ah kuliah shubuh yang pulang melewati kolam sambil mesem-mesem melihat ke arahku. Cuma ngaji-sekolah-tidur, Apa serunya?. 

“Ayo Nul, sekali-kali lah… tunjukin kalau kita selalu solid. Bersama kita bisa! Kalow kata Tim Kampanye Pak SBY mah. Lagian bentar lagi kita juga lulus, demi tetap menjaga kesolidan anak-anak Asy-Syafi’i lah... sekali-kali melanggar aturan pondok nggak apa-apa Nul…”. Kata Dadan. Coba! Sekali-kali… Cuma sekali ini saja! Tunjukin kalau kamu punya solidaritas! Semakin kuat saja bisikan-bisikan itu. Apa salahnya sekali-kali melanggar nidzham pondok?.

Bersambung...

Noura

0 komentar

be my noura!
kau seperti hujan pertama | dan aku anak kecil yang asyik denganmu | tanpa tahu demam 'kan datangi aku, malam-malam

andai,
mentari enggan terang esok dan esok lagi | aku hanya ingin menitip pesan pada awan: di balikmu aku tahu, mentari harus rindu padaku
 
tahukah?
namamu mulai menyerang warasku lagi | lebih sering... lebih sering
senyummu semakin lagi kurindui | kutasbihi... syukuri 

sadarkah? 
aku di sini sedang gagap mengeja hati
mengikuti cinta atau alunan satir | mencipta telaga atau mengundang banjir

kupandang-pandangi lagi lukisan lama | masih tak mengerti | di titik mana garis-garis kuas kita tautkan rasa | atau semuanya fatamorganaku saja? 

aku tak tahu jika kau merupa pada kanvas yang lebih pantas | senaifku yang lena dengan kuas bulu unggas

walau nyatanya dunia kita beda | percayalah, cinta ini bukan karena dia
dia... dialah yang sesungguhnya pesaing yang lalim padaku
yang membuat langkah ini selalu tertahan | kencang lariku menjadi pelan
padahal, aku begitu takut atas keterlambatan | ingin cepat-cepat menemuimu | menjagamu dari lian

it was true.. whenever you stays beside me, is my home



Muqoddimah

0 komentar


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillaah, malam tadi itu (15/1) sungguh menyenangkan, berkumpul dengan ‘aalim yang cerdik-pandai, melingkar dalam satu majlis, menyampaikan ilmu dan menerima ilmu. Yang luar biasa bahwa di majlis ini santri-santrinya itu seorang mu’allim, bahkan ada seorang muballigh senior. Duduk bersama dengan orang-orang besar tentu sangat luar biasa bagi ane. Inilah majlis yang sudah lama ane rindukan. Bisa ngaji kembali, jadi santri lagi, mendapatkan ilmu dan saling nasehat-menasehati.

Buku yang kami kaji tiap Selasa malam ini berjudul “Al-Jadaawil Al-Jaami’ah fii Al-‘Uluum An-Naafi’ah”. Pertamakalinya sangat asing terdengar di telinga, ma'lum sudah lama tak bergaul dengan buku-buku berbahasa Arab. Tapi, mendengar sinopsis tentang buku ini dari Ustadz Anton, ane langsung semangat 45 untuk ikut ngaji. Apalagi kajian ini diampu oleh ‘aalim lulusan Universitas Ummul Quro, Madinah, Ustadz Ridwan Hamidi.

Buat, Nouramates semuah… insyaa Allooh bisa mantengin hasil kajiannya. Akan  coba ane sajikan dengan bahasa yang seenak mungkin dikunyah nalar, bahkan oleh yang biasa baca buku-buku “ringan”. Meski, sepertinya butuh perjuangan khusus agar bisa demikian. Pasalnya—buku yang dikaji adalah buku yang merangkum beberapa ilmu sebagai berikut:

  • Al-Fiqh;
  • Ushuul Al-Fiqh;
  • Al-Qowaa’id Al-Fiqhiyyah;
  • Al-‘Aqiidah;
  • Al-Milal wa An-Nihal;
  • ‘Uluum Al-Quraan;
  • ‘Ilm At-Tajwiid;
  • Manaahij At-Tafsiir;
  • ‘Ilm Mushtholah Al-Hadiits;
  • ‘Ilm At-Takhriij wa At-Ta’arruf ‘alaa Kutub Al-Hadits;
  • ‘Ilm An-Nahwi.


Do’akan saja semoga ane bisa istiqomah mengikuti kajian ini, diberi kemudahan dalam memahaminya, diberikan kesehatan dan dihindarkan dari sifat malas agar bisa membagikannya pada Nouramates semuah…

Ustadz Ridwan dalam muqoddimah menyampaikan: “Siapa saja yang mengkaji buku ini, harapannya bisa mempelajari Islam secara SHAHIH dan SYAAMIL”. Ya, menurut beliau kedua syarat ini sangat penting. Mengapa? Dengan mempelajari Islam secara shahih, benar dan otentis pasti buah pikiran keIslamannya pun akan shahih. Begitu juga, belajar Islam itu harus syaamil, menyeluruh, komprehensif hingga tidak akan serampangan dalam beristinbath, membuat produk hukum syar’i.

Nah, bagi Nouramates yang ingin mantengin kajian ini bisa langganan rubrik “Nyantri” di lapak ini. Insyaa Allooh di update per-pekan. Semoga bermanfa’at. Amien.  

Pemuda Masjid Zaman Ini*

0 komentar

Progresif itu pemuda, pemuda itu harus progresif. Kalimat inilah yang saya pilih untuk menunjukan siapa pemuda itu? Aktif, bergerak dan menggerakan, menjadi pionir untuk merubah stagnasi atau menjadi minyak pelumas bagi mesin yang sudah aus dimakan usia begitulah seharusnya pemuda. 

Progresifitas seorang pemuda hanya akan timbul jika si pemuda tersebut memiliki daya respon yang tinggi dengan kondisi sekitarnya. Daya respon yang dimaksud tentu adalah respon terhadap isu-isu aktual dan problematika yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negaranya. Seorang pemuda tidak layak abai dengan problematika masyarakat-bangsanya karena di masa depan merekalah yang akan memikul tanggungjawab, melanjutkan dan menentukan ke mana bangsanya akan melangkah.

Adapun masjid dalam tradisi muslim selalu merupakan pusat peradaban atau paling tidak selalu menjadi titik tolak dan sumber kembali dalam hidup dan kehidupan. Yang demikian itu dicontohkan oleh Rasulullah dan disimbolkan dalam peristiwa Hijrahnya bersama umat Islam ke Madinah. Salah pertama yang dilakukan Rasulullah adalah membangun masjid. Ini bukti, contoh dari Rasulullah untuk ummatnya bahwa dalam membangun masyarakat-bangsa masjid punya peran signifikan. 

Mengapa masjid? Secara etimologi masjid adalah tempat bersujud, tempat dimana seseorang merendahkan dan menghambakan diri di hadapan penciptanya Yang Segala Maha. Ini adalah simbol bahwa dalam menjalani kehidupan, satu hal yang harus selalu diingat oleh Ummat adalah bahwa ada Yang Maha Segala di semesta ini. Mengawali sesuatu menjadi optimis karena percaya ada Yang Segala Maha dipihak kita, begitu juga saat ada permasalahan akan kebih tenang dalam menghadapinya karena yakin tidak akan ada yang tidak bisa untuk Sang Segala Maha.

Berdasarkan hal tersebut dalam kesempatan ini, saya sampaikan beberapa gagasan bagaimana idealnya seorang pemuda masjid (muslim) dalam berkontribusi terhadap ummat, bangsa dan negaranya:

1). Memantapkan jadi dirinya sebagai muslim; ini menjadi starting point. Muslim saat ini selalu bersifat inferior, segala hal dari barat (Eropa/Amerika) selalu dianggap lebih baik. Para sarjana gemar mengutip karya-karya barat dan terkesan malu jika harus mengutip karya-karya peninggalan cendekiawan muslim. Tetapi ini juga tidak berarti kita anti-barat, sebagaimana budayawan Emha Ainun Najib[1], mestinya dalam ber-ummat ini: "Jowone digowo, Arab digarap, Barat diruwat". Ya, kita akui modernitas saat ini dinahkodai barat karenanya kita tidak boleh anti jika tidak ingin ditinggalkan zaman. Tetapi ada hal yang harus kita ruwat dari modernitas ala barat itu. Alat untuk meruwatnya tidak lain adalah kejawaan (keindonesiaan) dan kearaban (keislaman) kita;

2). Dalam bangsa yang majemuk seperti NKRI ini, pemuda masjid ada baiknya mengembangkan gagasan (Alm.) K.H. Irfan Hielmy[2] yaitu menjadi Muslim Moderat, Mukmin Demokrat dan Muhsin Diplomat. Bila setiap pemuda masjid mengembangkan sikap ini, maka akan terbentuklah kesatuan pemuda progresif yang cakap bernegara;

3). Pemuda Masjid menjadi role-model/trend-setter bukan malah membebek budaya populer. Ingat, "Almuslimu yuatstsir wa laa yataatstsar" bukan tipikal muslim menjadi pengekor, muslim itu beridentitas dan berjiwa teladan;

4). Dan, sebagai langkah konkret, saya mengusulkan agar dibentuk jaringan pemuda masjid. Jaringan ini yang akan mengawal kegiatan masjid menjadi lebih progresif, satu visi (tentu dengan kelebihan masing-masing) sehingga lebih kontributif terhadap ummat, bangsa dan negara. 



*Disampaikan dalam Sarasehan Pemuda Masjid se- Daerah Istimewa Yogyakarta di Laboratorium Agama Universuitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 23 Desember 2012.

[1] Disampaikan dalam Sarasehan Santri CSS MORA Universitas Gadjah Mada; “Kontribusi Santri untuk NKRI”, 15 Desember 2012.
[2] Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, Ciamis, Jawa Barat.

Noura #1

0 komentar

“Bunda…”. Disandarkannya kepala ke pundak sang bunda, mencari rasa nyaman. Sebenarnya, yang dalam hatinyalah yang ingin Ia sandarkan. Ingin menitipkan sebagiannya, yang cemas dan gulana.

Di luar sana, rembulan serupa sabit yang ramping. Tanda jika bulan ini --Sya’ban, bulan kedelapan dari tahun hijriyah itu masih belia. Di langit, lembaran-lembaran awan mulai terpapar, bak selimut yang perlahan dihamparkan. Itu juga tanda, petunjuk waktu alamiah. Tanyakan saja pada para pecinta alam atau adik-adik pramuka penggalang, jam berapa biasanya awan mulai menyelimuti langit seperti malam itu? 

Dua perempuan, Ibu dan anak itu untuk beberapa saat membisu. Mencari waktu dan kalimat yang tepat untuk diutarakan. Dengan lembut, Noura menyerai-nyerai jari sang bunda. Sesekali dijabat erat, dibolak-balik dan dipandang lekat-lekat. Pikiran gadis itu terus memutar ulang kejadian sore tadi. Seorang lelaki yang cukup dikenalnya datang bertamu. Tanpa keluarga atau kolega yang mengantarnya, tanpa pemberitahuan sebelumnya menyampaikan hal yang begitu mengejutkan.
]©[

Jumat ini, seperti biasa Noura pulang tepat pukul 15.00. Entah mengapa, dia lewatkan satu kebiasaannya selepas kerja, berkunjung ke poliklinik Masjid Raya. Perasaan sudah menuntunnya untuk lekas-lekas pulang ke rumah. 

Hampir satu menit menunggu, akhirnya pintu terbuka.Perempuan berbaju sederhana tampak dari balik pintu.
“Assalamu’alaikum”. Ihya menguluk salam.
“Wa ‘alaikumussalaam”.
“Betul ini rumahnya dokter Hary?”
“Nggeh, betul, Mas-nya mau ketemu Bapak? Sudah janjian?”.
“Oh, belum. Apa Bapak sedang kondur Bu?”.
“Oh, nggak Mas, Bapak ada kok, lagi sama Ibu di ruang keluarga”. Kata perempuan paruh baya itu.
“Syukurlah kalau Ibu juga ada”. Jawab Ihya.
“Tunggu sebentar ya Mas, saya tanya Bapak dulu”. Tanpa mempersilakan Ihya masuk, perempuan itu langsung balik badan dan meninggalkannya.

Menghadap dua daun pintu selebar 200 cm itu, Ihya tampak gugup. Wajahnya pucat perlahan-lahan. Benaknya melompat beberapa masa ke depan, kira-kira bagaimana takdirku satu atau dua jam berikutnya? Sesuai yang diharapkan atau sebaliknya? Begitulah. Pandangannya seakan menembus balkon lantai dua rumah itu. 

Manakala benaknya melompat-lompat seperti itu, sebuah suara membuatnya terjaga kembali.
“Sinten nggeh?”.Perempuan bergamis ungu, berkerudung biru-violet menyapanya dari balik pintu. 
“Saya Ihya Bu, temannya Noura”. Jawab Ihya yang tetap tak bisa menyembunyikan kegugupannya.
“Oh, monggo masuk Mas Ihya.Temannya Noura tha?”.
“Monggo... monggo... pinarak Mas Ihya”.
“Siapa Bu?”. Seorang lelaki seusia 50  tahunan muncul kemudian. Kumis tipisnya tercukur rapi, begitu juga rambut dengan uban sporadisnya. 
“Teman kerjanya Noura Pak”.
“Oh,  temannya Noura tha? Lah, Noura masih di RS ‘kan Bu?”.
“Iya, paling bentar lagi juga pulang. Telat-telatnya sebelum maghrib biasanya”. Jawab Bu Rahma.

Ihya memperkenalkan diri, sedikit berbasa-basi termasuk mengklarifikasi bahwa dia bukanlah teman kerja Noura di Rumah Sakit. Mana mungkin dia bekerja di Rumah Sakit sementara dia hanya lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam.
“Jadi jenengan ini Ustadz tha, Saya kira teman kerja Noura di RS. Kenal dengan Noura di mana?”.  Tanya Bu Rahma.
“Tepatnya hanya pengajar TPA Bu”. Jawab Ihya sedikit tersipu. Dan, mungkin mulai dihinggapi rasa minder juga.
“Kenal Noura hampir setahun lalu Bu, biasanya kan ba’da ashar Noura membantu kami di masjid. Membantu operasional poliklinik. Kadang, jika tidak ada jama'ah yang minta ditensi atau sekedar tanya-tanya, Noura juga membantu kami mengajari anak-anak membaca Al-Quran”.
“Oh, begitu ya. Makanya Noura selalu pulang menjelang maghrib, padahal  jadwal di RS kan cuma sampai jam empat”. Timpal Bu Rahma. Pak Hary terlihat manggut sedikit, lalu dengan suara hematnya menanyai Ihya.
“Jadi, Nak Mas ini hendak bertemu Noura atau bagaimana?”.
“Oh, Anu... Pak, Bu, sebenarnya…”. 

Bunyi pintu mobil yang ditutup diiringi dengan bunyi kunci pengaman terdengar di luar sana. Dan, dalam hitungan detik terdengar salam dari pintu utama yang terhubung langsung dengan ruang tamu. 
“Assalamualaikum…”. Seorang perempuan muda berkerudung biru langit, jilbab biru laut serta jas putih di aisan tangannya muncul. Sekilas dia dan Ihya beradu pandang. Dua atau tiga detik mungkin. Entahlah ekspresi wajah mereka seperti apa.
“Sudah pulang nduk? kebetulan, ini ada temanmu silaturrahim ke rumah”.  Lagi, mereka dipaksa saling beradu pandang.
“Assalaamua’alik Mas Ihya…”. Perempuan muda yang tak lain adalah Noura itu memberi salam sambil menangkupkan tangan. Yang disalami membalas dengan cara yang sama.
"Duduk Nduk". Pinta Bu Rahma.
"Oh, Noura permisi sebentar Pak, Bu, Mas Ihya, nyimpan tas dan cuci muka dulu". Jawabnya.
Lima menit kemudian, Noura sudah ada bersama mereka. Duduk persis di samping Bu Rahma. Wajahnya terlihat lebih segar dibanding saat tadi datang, sepertinya baru teraliri air wudlu.

Ihya kembali memulai, menyampaikan maksud kedatangannya sore itu. Selain bersilaturrahim, ada maksud khusus yang ingin disampaikannya. Tepat saat kalimat inti itu diucapkan, Noura sedikit tercekat dari duduknya. Sebelah tangannya reflek menggamit tangan sang bunda.
“Mungkin ini kesannya tiba-tiba dan tanpa perencanaan.Tapi jujur saya sudah memikirkan dan menyiapkan segalanya jauh-jauh hari”.
“Termasuk datang sendiri seperti ini?”. Selidik dokter Hary. Alisnya terlihat sedikit kerung. Mungkin keheranan, untuk hal sepenting ini Ihya hanya datang sendirian saja. Padahal biasanya kalaupun tidak datang bersama orangtua minimal ada wakil dari orang yang dituakan.
“Nggeh Pak, maaf”. Jawab Ihya. Ihya sepertinya insaf dengan pertanyaan dokter Hary. Etikanya Ihya datang bersama keluarga ataupun kolega. Tapi, seperti yang tadi disampaikannya, semua sudah atas pertimbangan terbaik menurut pemikirannya.
“Hmhhh…”. Sambil menghembuskan nafas --berat, dokter Hary memberikan konfirmasi. “Jujur, sebagai orangtua saya cukup terkejut, dan ya... saya fikir anda sangat berani”.
“Bagaimanapun, sebagaimana  tuntunan  agama kita, saya dan isteri masih punya hak untuk turut memilihkan suami yang terbaik untuk Noura. Ya kan Bu?”. Seru dokter Hary.
“Betul Mas Ihya, hanya perempuan yang pernah bersuamilah yang bebas menentukan pilihannya sendiri, begitu kan?". 
"Nggeh Bu". Sambil menganggukan kepala, Ihya menjawab. 
"Tapi kami tetap memberi kesempatan Noura jika ingin menyampaikan sesuatu”. Bu Rahma kemudian menujukan pandangan  pada Noura.

Beberapa saat Noura terdiam. Sepertinya berfikir dalam-dalam, memilah dan memilih kalimat  yang tepat untuk disampaikan. Sayup-sayup terdengar suara murattal dari masjid. Terdengar juga suara shalawat dan puji-pujian untuk Sang Rasul dari masjid lainnya. Sepertinya bedug maghrib akan segera tiba.
]©[
Lembar-lembar awan yang tadi perlahan-lahan rebak, kini sudah hampir menutupi langit malam itu. Bulan ramping itu pun hanya sesekali saja terlihat, kadang sabitnya malah hanya terlihat sebagai bayangin yang kabur. 

Udara malam sesekali bertiup agak kencang, menebar hawa dingin musim kemarau dari sela ventilasi rumah itu. Kebetulan Bulan Sya’ban tahun ini bertepatan bulan Juli pada penanggalan kalender masehi, kemarau sedang di puncaknya.
“Bu... sebaiknya Noura memberi jawaban seperti apa?”.
“Dari ceritamu barusan, cerita bagaimana perasaanmu padanya, bagaimana calon suami yang kau inginkan, bunda hanya bisa menyarankan satu hal, mohonlah petunjuk dari-Nya, shalat istikharah mulai malam nanti ya Nduk!”.

Bersambung ...