Cukup yang biasa-biasa saja

0 komentar

Jika aku Ayah dari seorang anak perempuan
Kakek dari seorang cucu perempuan
Paman dari seorang keponakan perempuan
Guru dari seorang murid perempuan
Harapku mungkin sama...
Semoga kau punya karir cemerlang, Nak!

Lalu, jika kau tanya aku
Seorang suami dari seorang perempuan
Apakah kecemerlanganmu yang utama?
Sepertinya bukan..
Hadirmu untuk aku, untuk kami
Itu yang utama

Maka, sekali-kali absennya kamu dari hidup kami membuat yang lain darimu tak terlalu berarti

Menteng,
13-Nov-2018
23.58

Masih

0 komentar

Aku pikir hari ini akan menjadi hari spesialku
Haha...
Ternyata masih,
Sama saja

Aku masih merayakannya sendiri
Sementara kamu berhari raya dengan temanmu

Masih, tak ada yang spesial
Pun engkau, temanmu sepertinya masih lebih spesial hingga terhadapku, terhadap inginnya aku kau temani, kau lena dan tak lagi hirau

Ah, sunyi itu memang tidak serta merta hilang karena ada teman di samping kita
Tidak juga kan hilang karena kita di tengah keramaian
Sunyi itu hanya akan hilang jika ada teman yang mengerti bahwa dia kubutuhkan, dan tanpa diminta dia menawarkan bantuan, seperti kepadanya aku pun akan berlaku demikian.
Karena aku tak mau dia merasai kesunyian
Karena aku tahu, kesepian itu tak pernah siapapun inginkan

Hari Raya yang sunyi,
30-Okt-2018
23:57

Kebebasan yang Tak Ingin Bebas!

0 komentar

Sepertinya bangsa ini mulai menikmatinya
Cita-cita para pendiri
dengan perjuangan yang ...
Kami hargai sepenuh hati untuk kepentingan Kami sendiri, golongan Kami

Sekali lagi cita-cita itu coba dirampas
Dua kali lagi, tiga dan tujuh kali lagi ...
Syukur, Kami selalu bisa merebutnya

Tak mungkin Kami lupa
Bapak-Ibu yang sekarang masih belum mau berpangkat veteran
Masih bereuporia berebut kuasa
Adalah aktor-aktris pejuang yang ke sekian itu

Sulit memang, zaman ini sangat menggoda

Lihatlah bangsa ini, dari hulu ke hilirnya sedang berpesta pora
merayakan gelas demi gelas kebebasan

Tak hanya itu, pilar-pilar demokrasinya juga, bersulang mengangkat tinggi-tinggi gelas kemenangan itu
Mari bersulang!
Kita sudah menang!

Ah!
Kukira ada yang sudah mabuk
Corong-corong informasi Kami
Menafsir kebebasannya secara paradok
Kebebasan untuk diam-membungkam
Kebebasan untuk membungkam supaya diam

Ah!
Siapapun berhak mendefinisi!
Bebas!

Aku Hanya Ingin Menangis

0 komentar

Untuk saat ini,
aku hanya ingin merayakan kesedihanku

Tadinya kupikir...
paling tidak, aku bisa untuk sekedar terlihat tegar
Sembunyikan perih dan sedih
dalam poles senyum sumringah -namun pedih
Faktanya, aku tak bisa
Terlalu berat curah air di mataku
Terlalu penuh volume perih menggenangi kelopaknya

Untuk sementara,
Aku hanya ingin menangis
Mengiringi kepergianmu

Aku memang lelaki
Tapi sementara ini,
Aku ingin menjadi lelaki yang menangisimu
Menangisi kepergianmu

Diantara gigil badan dan rapuhnya kelopak mataku, January 25, 2018

Selamat Malam, Senja

0 komentar

... seperti seorang yang tahu kapan ajalnya
Mestilah baik persiapannya,
atau berniat menghabiskannya
sisa waktunya itu
sebaik-baiknya
seindah-indahnya
menurut definisinya, setidak-tidaknya

Demikianlah,
saat kau kabarkan berita itu
bahwa kebersamaanmu denganku sebentar lagi purna
Aku hanya ingin yang sesisanya ini
menjadi akhir yang baik
sebuah epilog yang indah
paling tidak, indah seperti yang kuimpikan
syukur jika itu pun yang kau inginkan

selamat jalan
semoga segala harapan
dan keinginan
berjalan beriringan
dengan takdir tertulis sehalaman

Senja di Kotabaru, Desember 3, 2017

Aku Bukan Pengecut!

0 komentar

Kelak,
Jika kau memintaku untuk menyerah

Kelak,
Saat mulai mekar pada logikamu bahwa
...segala yang pernah ada antara kita hanya sebentuk rasa yang tidak dewasa
hanya boleh ada dalam cerita picisan semata

Kelak,
Jika kau memintaku untuk pulang saja, Habis visa bertamuku pada ruang memorimu

Kelak,
Aku hanya akan mengingatkanmu sekali saja bahwa
...pernah suatu ketika kita punya mimpi bersama
...pernah suatu ketika kau tak rela jika aku menyerah
...pernah suatu ketika, Dia memberikanmu keyakinan untuk memilihku
...pernah suatu ketika kau memiliki rasa, rasa yang tentu tak sama dengan logika

Kelak,
Jika saat itu tiba
aku pasti pamit, tak usah kau paksa
tenang saja
bersiap saja dengan rencana besarmu dengannya

Kelak,
jangan sekali-kali kau menuduhku pengecut
tak berusaha memperjuangkan rasa kita segigihnya
kau boleh menyalahkan nasibku
kau boleh mengejek ketakmampuanku memuaskan hasrat logismu
kau boleh mengolok kekalahanku tak bisa seperti kekasih sempurnamu
boleh saja, aku pasti terima
dengan kesadaran diriku sepenuhnya
dengan segala keikhlasan yang kubisa

Kusampaikan sekali lagi
Aku bukan pengecut!
Jika saja bukan kau yang meminta
Aku pasti tak akan menyerah
Jika saja bukan kau yang inginkan
Aku pasti tak mau pergi
Aku bukan pecundang!
Bagiku, sejak melihatmu
Adalah awal perjuangan yang tak pernah ingin kuakhiri
Hanya jika kau sendiri yang inginkanku berhenti
Apakah perjuanganku masih akan memiliki arti?!

Kumohon,
Cukupkan dengan menyuruhku pamit pergi
Jangan sebut aku pengecut!
Aku bukan pengecut!

Mentari Sebentar Lagi Terbit, Nov 19, 2017 -|[ 02:48 ]|-

Apakah Aku Bagimu?

0 komentar

Untuk bertemu denganku, katamu butuh alasan
Setidaknya alasan logis, atau apalah agar pertemuan punya hal signifikan

Sore tadi, dia minta kau temani,
ingin temui seseorang.. tapi ingin bersamamu,
padahal seseorang itu sudah akan ia bersamai, sebelum "tapi ingin bersamamu" itu...

Aduhai, aku menyengaja-meminta ditemanimu rasa-rasanya belum pernah, dan sepertinya serupa barang langka nan mewah...
sedang dia? mengajakmu begitu saja, lurus-mulus saja... dengan mudahnya... tak nampak sebagai hal yang susah, murah saja...

Adapun kau?
Tak butuhkah alasan penting untuk menemuinya? Sebagaimana alasan itu harus ada jika aku yang ingin bertemu?
Apa gerangan alasan dia ingin kau temani? Sedang sebelumnya, tanpa kau temani pun dia sudah bersama dengan seseorang itu?

dan... bagian ini...
ya yang ini...
bagian dimana tak butuh untukmu berfikir lama, mengatur jadwal ini-itu yg biasanya  padat, atau ketatnya izin yang harus kau dapat, untuk dia... ya dia... kau langsung bisa bilang "ayo" untuk menemaninya.
Tak ada susah, tak pula resah dengan apa pun itu, terabas saja...
Duhai, serasa kau berkata dia istimewa sedang aku hanya apa...

Dulu,
dan kadang sekarang-sekarang pun,
masih sering kau ingatkan padaku: "menemui seorang PRIA apalagi harus sampai berdua saja, tanpa ada hal PENTING, engkau tak biasa, tak enak hati rasanya, rikuh, sungkan dan semacamnya

Sore ini, atau mungkin dari beberapa sore sebelumnya, SEORANG lelaki mengajakmu pergi, alasannya: " temani aku menemui seseorang ...
... padahal sekali lagi (ini yang mungkin nalarku tak sampai itu) ...padahal seseorang itu akan ia  bersamai persis sebelum dia ingin kau temani bertemu .."

sungguh, tak bisa kutemukan alasan apa pun mengapa ia ingin kau temani...
Tak ada alasan, ya... tak ada...
selain,
satu alasan saja,
ingin bersamamu... ---hal mahal darimu yang bisa kudapat
dan ...
aduhai ... betapa irinya aku, karena
dengan ringan kau langkahkan kaki, tak tersirat beban sedikitpun dia kau temui
dan ... dengan biasa saja kau sampaikan "ayo kau kutemani"...
Tak semaknakah itu bahwa denganku kau butuh ribuan alasan, berdua denganku kau harus sungkan, menemui dan menemaniku adalah taboo, hal yang tak biasa  untukmu...
sedang dengannya?
"Aku lupa semua itu"

Denganku, berat sepertinya kau jeda dari kesibukanmu
Denganku, jika waktu tak benar-benar luang dan panjang ... "kapan-kapan saja ya kita bertemu.." begitu biasanya titahmu, tak bisa diganggu

Dengan mereka, rutinitas kau terabas pun tak apa
Dengan dia itu, waktu seujung kuku pun kau mau, bahkan jika harus menungguinya terlebih dulu ... "tak apa-apa ayo saja, aku mau..."

Duhai...
Ingin rasanya seperti dia, mereka-mereka..
Duhai...
Tolong beri satu alasan saja, untukku tak cemburu
Agar tenang hatiku
Dan, bisa lelap malamku

Temaramnya Dini Hari, November 12, 2017  --|[01:50 a.m]|--

Kau Yang Putuskan

0 komentar

Temukan aku di memori harian usangmu
atau
Temani aku sepanjang umurmu
Sepanjang umurku

Jika yang pertamalah yang tertakdir
Mudah-mudahan bukan aku yang putuskan
Tapi kau yang pilihkan
Jika pada luka garam dibenam-benamkan
Mudah-mudahan itu lukaku tersebab minggatmu
Bukan lukamu lantaran ketakberdayaanku

Temukan aku di memori harian usangmu
atau
Temani aku sepanjang umurmu
Sepanjang umurku

Pilihan yang kedua tentu yang kuinginkan
Kau habiskan waktu bersamaku
sepanjang umurmu, selama umurku
Mudah-mudahan kau mau
mudah-mudahan kau mampu

Drafted: few weeks ago
*Edited: Tlogowono, January 2, 2018

Paradoks

0 komentar

Aku tahu cintaku ini terlalu,
Tak pernah mampu kuberikan setetes demi setetes saja

Aku tahu, ini bisa jadi tak baik bagimu
dan akhirnya tak baik jua untukku

"Cinta yang terlampau mewah itu, bisa membimbingnya pada yang salah"

Kau menjadi bosan
Karena segala yang sudah mewah akan stagnan
Kesederhanaan akhirnya kau anggap lebih indah
Seperti kemewahan yang diimpikan "wah" bagi yang terbiasa seadanya

Aku tahu cintaku ini terlalu,
Kuberikan lebih dari takaran

"Merasa terlalu aman itu terkadang membahayakan"

Kau bisa saja menjadi begitu arogan
Tak sedikitpun takut kehilangan
Karena tahu kau terlalu penting untukku
Tak mungkin bisa aku berpaling

Menjadi tak terlalu menginginkanku
Toh, aku yang begitu menginginkanmu
Kapanpun kau mau, akulah yang akan menghamba padamu

Jadi,
Pantaskah kutitipkan percaya ini padamu?
Bahwa kau akan mampu untuk tetap bersamaku? Menghargaiku dengan kesetiaan rasamu padaku? Tak kan tergoda fatamorgana yang akan selalu menampakkan diri di sekelilingmu?

Percayalah, kemewahan yang kuberikan itu seadanya
Tak mengada-ada
Sederhana saja sebenarnya
Karena memang begitulah adanya

Ingatlah, jika cintaku yang seperti ini masih kau anggap bukan apa-apa
Sekali-kali jangan kau berdo'a
Ingin yang sempurna, lengkap tak ada cela
Karena di puncaknya, yang kan kau temui sama saja

Cintaku mungkin terlalu,
Terlalu mewah atau justeru terlalu sederhana
Untukmu

Nikmati saja
Jika berkenan dan mau
Jika tidak?!
Camkanlah! Tak kan kau temui seorangpun yang begitu menghargaimu seperti aku
menyayangimu setulusku
mencintaimu, meski kau tidak

.
.
.

Tlogowono, October 11, 2017

Mau Bagaimana?

0 komentar

Dalam kuasa waktu,
Semua adalah satu
Kau
Aku
Kesempatan
Tak ada yang berulang
Tak ada yang kedua, ketiga dan berikutnya.

Dalam kuasa waktu,
Segala itu hanya satu, sekali
Yang saat ini
Ambil atau abaikan
Terserah!
Tak ada pilihan tangguhkan!
Yang sekarang bukan yang kemudian
Yang saat ini tak sama lagi dengan yang lampau
Walau serupa.

Dalam kuasa waktu,
Ada aku dan kamu
Mau bagaimana?

Krikilan, October 6, 2017

Saat Kau Bilang 'Ya'

0 komentar

Seperti hujan pertama
Surprise!
yang menantinya begitu lama, sungguh sangat bahagia
yang tak menyangka terpaku menganga
yang memuja tapi tak siaga, ada sesal di sana
yang tak suka, pastilah merutuk berbusa-busa

Meski tak perlu lama kutunggu
Saat kau bilang "Ya"
Kukira, aku satu-satunya makhluq paling bahagia
Saat kau bilang ...
"Ya!"
Ya, saat kau bilang "Ya".

Drafted: few months ago
*Edited: Tlogowono, January 4, 2018

Ragu

0 komentar

Jika malam tak pekat
siang tak benderang

Jika gula dicecap tak manis, atau
garam hanya hambar-hambar saja

Jika kekasih tak betah bersamamu?

Krikilan, September 21, 2017

Ayah (3)

0 komentar

Aku pernah sampaikan kalau ayahku seorang yang kreatif. Ayah adalah seorang seniman  sunda. Era tahun 90-an menjadi puncak karirnya.

Ya, ayah adalah seorang dalang wayang golek. Daerah Ciamis, khususnya yang  menjadi wilayah Kabupaten Pangandaran sekarang, adalah jajahan utamanya.

Di era itu pula, perkumpulan mahasiswa asal Ciamis di Yogyakarta sempat mengundang ayah untuk pentas. Kata Ayah, dalam satu bulan ayah bahkan bisa menolak beberapa tawaran pentas. Jika demikian, pastilah Ayah cukup populer. Dan, itu artinya performa ngadalang ayah diapresiasi baik oleh masyarakat.

Suatu kali, ayah bercerita kepadaku mengenai awal mula belajar ngadalang (menjadi seorang dalang). Dari ceritanya itu, kukira guru pertama ayah sedikit culas. Bagaimana tidak, satu bulan ayah mondok di rumah beliau, ayah hanya diminta tidur di atas kotak penyimpanan wayang. Tak hanya itu saja, setiap hari selama sebulan itu ayah diminta berkebun dan mencangkul sawah milik beliau, sang guru. Selama itu pula, tak pernah sekalipun Ayah diizinkan memegang  wayang yang bersemayam cantik di kotak sakral itu.

"Nyangkul dulu saja sekarang mah. Nanti kalau sudah diberi wangsit sama kotak itu, baru kamu saya ajari". Begitu sang guru berfatwa.

Entah sang guru yang memang culas, atau Ayah yang tidak cukup sabar dengan trial sang guru, yang pasti dua orang ini tak sukses menjadi guru dan murid. Ayah kabur!

Singkat cerita, setelah kabur dan searching berita kesana - kemari, ayah menemukan seorang guru gaek. Seorang dalang kawakan dari bagian barat laut Ciamis.

Menurut penuturan ayah, dalam proses belajarnya ini memang ada ritual-ritual mistis. Salah satunya berendam di kolam tertentu di danau tertentu saat orang-orang desa tidur kedinginan dalam selimut. Juga, berbagai jampi dan sesaji tak pernah terlewatkan. Belakangan ayah mengira ritual dan jampi-jampi itu mirip dengan ritual dan doa-doa umat Hindu.

Masih kata ayah, murid sang guru bukanlah ayah seorang. Saat ayah mulai mondok di tempat Eyang Dalang itu, beberapa siswa --termasuk senior ayah yang di masa depan menjadi second layernya ayah- sudah ngelmu di sana.

Dari beberapa murid Eyang Dalang (termasuk beberapa senior), ayahlah yang ditahbiskan sebagai murid terbaik. Yang oleh karenanya didaulat untuk membentuk lingkung seni (grup pementas wayang) sendiri dan segera melakukan pentas. Baiknya, sang guru tak hanya mendaulat tetapi juga mempromosikan dan mencarikan lahan pentas untuk ayah. Karenanya, tak lama pasca diinagurasi itu, ayah langsung mendapat panggung, ngadalang untuk pertama kalinya di bawah lingkung seni berjuluk "Cahaya Winaya". Grup pementas wayang baru dibawah kepemimpinannya.

Karir ayah pun semakin menanjak. Oh ya, sejak awal karirnya ini ayah sudah mempersunting Ibu (ke depan akan kutuliskan seri khusus tentang Ibu, Insyaa Allooh). Ibu adalah seorang qori (pelantun al-Quran). Jadi, barangkali anak-anak beliau ini harusnya ada yang memiliki suara emas. Bagaimana tidak, ayah jago berkidung sunda sedang Ibu pelantun merdu ayat-ayat al-Quran. Tapi, sepertinya bakat itu tak sukses diwariskan. Dari hampir selusin anak-anak beliau, hampir semuanya bersuara  sumbang bin fals. Mungkin, karena saat kami-kami ini dilahirkan, penyanyi yang sedang populer adalah Kang Doel SUMBANG dan Bang Iwan FALS.

Lambat laun sepertinya karakter religius ibu mulai men-take over relung hati ayah. Jika kebetulan sedang tidak sibuk pentas, ayah tak pernah absen dari majlis ta'lim, begitupun mengaji al-Quran selepas magrib.

Pengaruh religius ini pun terbawa sampai ke lingkung seni milik Ayah. Sepengetahuan ayah, lingkung seni ayahlah yang pertama kali mereformasi (bahasa agak kerennya) jadwal waktu pementasan wayang. Umumnya, pementasan wayang itu tak memiliki jeda. Pentas siang digelar setelah akad (jika di pesta pernikhan) atau setelah seremoni formal hingga hari hampir gelap. Sedang pertunjukan malamnya dimulai sekira lepas maghrib hingga pukul 06.00 pagi. Nah, seingat ayah lingkung seni milik Ayah lah yang pertamakali mendobrak pakem itu. Setiap waktu shalat tiba, adzan mulai dikumandangkan di masjid dan langgar, the show must be paused. Dan ternyata, pola ayah ini mulai diikuti oleh grup-grup lainnya. Tak hanya itu, pakem lain yang ayah tidak patuhi adalah ritual jampi dan sesaji. Menurut Ayah nama ilah nya orang Islam itu sudah jelas, Allooh, sedang dalam jampi-ritual sebelum manggung itu yang lain. Begitu juga perihal sesaji.

Suatu ketika, saat dimana ayah sedang di puncak karirnya itu, saat pundi-pundi mengalir deras ke kantong ayah, saat ayah harus sampai menolak beberapa tawaran manggung, dalam suatu majlis ta'lim yang ayah ikuti, sang ustad berfatwa lebih kurang seperti ini:

"Kesenian wayang itu hukumnya HARAM!".

"Dalam suatu pertunjukan wayang, terhimpun dosa-dosa di sana. (Kesenian wayang itu) banyak madlhorot- nya. Meniru ritual agama lain, mempertontonkan aurat dan mengumbar syahwat (biasanya selingan wayang berupa ibing sunda, dimana penonton biasa menari dengan sinden dan memberi saweran), mengundang maksiat seperti perzinahan dan minum-minuman keras dan lain-lain. Dan yang paling bertanggungjawab atas semua itu adalah pimpinan rombongan nya, DALANG!".

Sudah dapat dibayangkan bukan, bagaimana ayah harus menelan fatwa ini? Bagaimana bingung dan takutnya ayah?

Jika anda di posisi ayahku, yang pekerjaan satu-satunya dan yang utamanya adalah Dalang, kira-kira bagaimana sikap anda?

Neyla Fauziyya #1

4 komentar

Jadi, saat itu aku menghadiri undangan tasyakuran Wisuda temanku, minggu 26 February 2017. Malas sebenarnya, karena hari sangat panas. Aneh juga sih, bikin party di siang hari terik seperti itu. Lazimnya kan, party itu di sore atau malam hari yang syahdu. Walau begitu, aku tak tahu mengapa aku akhirnya berangkat juga. Mungkin ada malaikat baik yang membujuk fikiranku, meringankan kakiku untuk melangkah, melapangkan jalanku untuk pergi ke sana.

Benar saja, perjalanan menuju Rumah Makan dan Pemancingan itu sangat terik. Moro Kangen nama tempat acara itu. Dari atas, matahari membakar rambut kelimisku. Dari bawah, uap panas aspal menjilati sepatu kets hijauku.

"Ahhhh... Apa sih motivasiku ke acara ini?".

"Acara-acara seperti ini paling cuma makan-makan lalu ngobrol basa-basi yang bikin bosan". Aku menggerutu juga pada akhirnya.

Yang menjengkelkan juga, di tempat acara belum ada siapa-siapa.
"Alah...alah...begini ini nih  kebiasaan buruk yang selalu dipelihara, rubber time.. ". Aku paling tidak suka harus menunggu seperti ini.

Untunglah, tak berapa lama setelah ku kelilingkan pandang ke sekitar, Rizki, salah seorang wisudawan datang dengan beberapa temannnya, sesama undangan.

Sudah dua orang wisudawan, yang punya acara, berarti yang datang. Tinggal seorang lagi, katanya sih yang ini perempuan.
"Halaaah... sudah ketebak, pasti telat. Perempuan dimana-mana sama saja, dandannya pasti lama".

Tigapuluh menit menunggu, barulah tamu undangan berdatangan. Kalau kuhitung-hitung mungkin sudah sekitar 20-an orang.

"Mana ini si empunya acara satu lagi?"

"Ckckckckck... Katanya tercepat-terbaik.. huh!"

"Tercepat kok malah lambat datangnya.. sok spesial banget sih dia. Sok penting, ditungguin banyak orang. Menyebalkan".

Acara pun akhirnya dimulai. Katanya, si wisudawati yang sok spesial ini emang bakalan telat datangnya.

"Lempeng amat dia kirim pesan seperti itu kan? Dasar!".

Beberapa yang diamanahi menjadi Panitia mulai memesan makanan dan minuman.

MC membuka acara dengan basa-basi alakadarnya.

"Sebelumnya ada permohonan maaf dari Kak Neyla buat hadirin semuanya.  Katanya, Teh Neyla datang agak telat".

"Saat ini beliau baru mau berangkat dari Pondok-nya".

"Tadi dipanggil menghadap Pak Kyai nya dulu katanya".

"Insyaa Allooh, Lima belas menitan lagi sudah akan bersama kita".

Hmmmh... Ternyata anak sok penting ini anak Pondok. Sebagai yang pernah nyantri, Pondok dan orang-orang Pondok memiliki tempat tersendiri di hati-ku. Walau begitu, aku tak percaya begitu saja alasan kenapa dia telat. Aku yakin, sebab sebenarnya ya kebiasaan dan bakat bersolek dia yang kaum hawa itu.

Bersambung ...

Ayah (2)

0 komentar

Ayah, pipimu kini sudah keriput. Namun begitu, kau selalu terlihat gagah bagiku. 
Nyatanya, bagaimanapun scientists bilang kalau atmosfer kita sudah tak maksimal lagi mereduksi panas mentari, lapisan ozon kita sudah bolong dimana-mana, kau masih sanggup berduel dengan sengatannya pagi hingga petang hari.
Ayah bagian kiri dan kanan pipimu barangkali sudah tak simetris lagi. Tapi biarlah Ayah, sungguh tak sedikit pun mengurangi kharismamu bagiku. Biarkan itu menjadi bukti kegigihan perjuanganmu untukku, untuk kami anak-anakmu. Tak ada kata lelah untuk kami, meski nyatanya kau semakin hari semakin lemah.
Yang aku tahu Ayah,,, Ayah tak akan mau berhenti menjaga kami, memastikan kami sejahtera, tak sedikitpun merasa lapar dan dahaga. Ayah, tahukah? Sebenarnya di masamu kini, kamilah yang harus berfikir begitu pada Ayah, bukan sebaliknya.
Ayah, mata elangmu, yang dengan satu tatapan saja anak-anakmu akan merasa ciut, kini hampir dikerut bengis oleh kelopak dan pelipisnya. Tapi Ayah, rasa cinta kami, kasih dan sayang kami, segala rasa ajrih dan penghormatan kami untuk Ayah, ketundukan kami pada nasihat dan ajaran baik Ayah tak memerlukan hujaman mata elangmu itu lagi, sungguh. Do'akan saja agar kami, meski hanya dengan gesture -mu atau rasa yang terlintas di benakmu pun, kami dapat menerjemahkannya dengan baik, mengerti apa yang Ayah maksud, yang Ayah inginkan dari kami, lalu mempersembahkannya pada Ayah dengan sebaik-baiknya. Yang sebaik-baiknya Ayah.
Ayah, aku mencintaimu.

Maaf Aku ...

0 komentar

Astaghfirullooh al'adzhiim
Alladzii laa ilaaha illa huwa
Alhayyu Alqoyyuum
Wa atuubu ilaih
Yaa Allooh, maaf aku cemburu

Astaghfirullooh al'adzhiim
Alladzii laa ilaaha illa huwa
Alhayyu Alqoyyuum
Wa atuubu ilaih
Yaa Allooh, maaf aku pencemburu

Astaghfirullooh al'adzhiim
Alladzii laa ilaaha illa huwa
Alhayyu Alqoyyuum
Wa atuubu ilaih
Yaa Allooh, maaf
Maafkan aku
Lebih percaya pada prasangkaku
Lebih cenderung pada logika dangkalku
Menafikan, meski sebentar, janji-Mu

Astaghfirullooh al'adzhiim
Alladzii laa ilaaha illa huwa
Alhayyu Alqoyyuum
Wa atuubu ilaih
Yaa Allooh,
tuntunkan rasa ini pada yang sakiinah bukan ammaaroh
Yaa Allooh,
Sallim quluubanaa
Sallim quluubanaa
Sallim quluubanaa
Fa sallim umuuronaa
Fa sallim ahwalanaa
Fa sallim a'maalanaa
Fa sallim mahabbatanaa
... mahabbatanaa... mahabbatanaa...
Yaa Muhibb...
Yaa Muhibb...
Yaa Muhibb...

Tlogowono, August 23, 2017

Cinta itu ... #1

0 komentar

Tet... tet.. tet.. bel tanda masuk berbunyi, aku masih berlari tergesa-gesa menuju sekolah. Kulihat, di gerbang sana, penjaga sekolah tengah menunggu, memencrongiku dengan kedua matanya yang seperti hendak menelanku mentah-mentah. Di depan gerbang kupelankan langkahku.

“Ckckckck, kamu ini, cepat!”. Terdengar suara penjaga sekolah itu membentakku. Dihardik seperti itu aku hanya menyeringai kosong.

“Selamat pagi pak...!” sapaku sambil berlalu ke kelas 1 MAN PK.

“Lebih semenit lagi saja, Akang suruh ¬kamu push-up satu set” terdengar suara penjaga sekolah itu meracau lagi.

Perlahan sambil menghela nafas, kulangkahkan kaki menuju kelas. Anak-anak kelas 1 MAN PK masih terlihat asyik bercanda, berkeluyuran di sekitar kelas. Kebetulan saat itu Pak Sarwono, guru Bahasa Indonesia pagi ini belum ada di kelas.

“Kesiangan lagi nich!” Sahut Ami sinis. Aku berlalu cuek, tak memperdulikan ucapannya.

Baru saja aku bermaksud untuk duduk, tetiba terdengar sapaan lembut dari balik pintu, “Permisi...!” suara itu cukup membuat suasana kelas hening sejenak. Saat itu waktu menunjukkan pkl. 07.15 WIB.

“Ada apa Bu..?” sapa Arfan. Arfan duduk sebangku denganku, ia menjabat sebagai ketua kelas.

Dengan lembut Bu Arni, petugas TU itu menjawab, “Tadi Pak Sarwono memberi tahu bahwa pada hari ini beliau tidak bisa masuk kelas, tapi beliau berpesan agar jam pelajarannya kalian gunakan untuk mendiskusikan materi tentang memparaprase puisi, di LKS halaman 42”.

“Tolong nanti ketua kelas menentukan masing-masing kelompok dan memandu jalannya diskusi” tambahnya.

Dengan bergaya kekanak-kanakan seisi kelas menjawab, “Ya Buuuuu...!!!”.

Petugas Tata Usaha itu pun bergegas kembali.

“Sayang ya jam pelajaran pertama sudah kosong” kata Angga sambil mengepalkan tangan dan mengayunkannya kebawah, YES!. Wajahnya memelas tapi terlihat senang, mengejek. Berulang-ulang ia melakukannya. Kemudian tertawa sambil mengadukan tangan kanannya dengan tangan Ipoey, TOSS!

“Padahal kita kan dah bayar SPP kan ya.. hhhhhhh… ” balas Ipoey menambah ejekan.

Di kelas kami, semuanya laki-laki. Begitulah peraturan sekolah menetapkan, begitu pun peraturan pesantren. Maklum, katanya sih kami anak-anak khusus, pilihan. Kami adalah anak-anak penerus para ulama, katanya juga. Yang akan menggantikan para pensyi`ar Islam yang sudah terlalu sepuh. Namun, kenyataanya seperti berseberangan. Kami seolah terlalu jauh untuk bisa mengemban tugas itu. Kebanyakan dari kami justeru lebih menyukai keilmuan yang sifatnya umum daripada ilmu keagamaan. Entah karena jenuh tiap hari menggeluti buku-buku bertulisan kriting (begitulah Fandi, tokoh dalam film Kiamat Sudah Dekat  menyebut huruf arab),  atau karena memang jiwa-jiwa kami terlalu “kotor” untuk bisa meresapi dan memahami teks-teks suci.

Seperti biasanya, di kelas kami tak pernah sekalipun terjadi apa yang namanya diskusi. Entah apa sebabnya, yang pasti tak lama setelah petugas TU itu pergi, hampir setengah dari kami sudah berhamburan keluar, begitupun aku. Aku mengajak sahabatku Arfan menuju kantin sekolah. Kebetulan, tadi ketika berangkat aku belum sempat sarapan. Padahal dari asrama ke sekolah Cuma berjarak sekitar 200 meter saja. Itulah mungkin salah satu contoh sifat malasku. Sesampainya di kantin, kupesan seporsi ketoprak dan Framboze kesukaanku. Sedang Arfan hanya berniat sarapan arem-arem dan bakwan.

Sambil melahap hidangan itu, kuterawangkan pandangan ke depan. Ke arah taman kampus yang tepat berada di depan kantin. Tanpa sengaja, kulihat sepasang muda-mudi ngobrol asyik sekali di bangku taman. Aku tertegun sejenak mencoba meyakinkan apa yang tengah kulihat, sosok itu tak asing lagi bagiku.

“Tyas... ya, itu Tyas..kaan? “ gumamku.

“EHm.. “ gertak Arfan yang tanpa kusadari sedang mengawasiku dari tadi.

“Ada apa dengan Tyas, Hya? Godanya. Mimik mukanya malah lebih jahil lagi.

“Makanya kalo sama cewek tuch nggak usah terlalu jaim, biasa aja lagi. Toh perasaan suka itu lumrah kok.. hehe.. , ya kalo udah kayak gini kena sendiri deh lo”. Arfan nyrocos kayak emak-emak arisan. Sok-sok menasihati padahal aku nggak minta. 

“Berisik!” Sergahku. Agak jengkel pula dibuatnya, bukan perkataan seperti itu yang kubutuhkan saat ini. Aku masih tak percaya, tak mengharapkan kebenaran atas apa yang kulihat kini.

“Maksud lo?” Hehe.. tambahnya mengejek.

“Eh Hya, asal lo tahu yah.. kita tuh manusia, wajar lagi kalau suka sama lawan jenis. Lagian kalau kamu tahu tuh ya, sebenarnya banyak lagi santriwati yang suka sama kamu, hanya kamu nya aja yang culun gitu, ndeso hahaha... Pake ikut-ikutan ngeharamin pacaran segala”.

Aku memang membenarkan apa yang baru saja dikatakan Arfan. Sudah fitrah memang seorang laki-laki menyukai perempuan. Tapi, aku beda. Aku punya prinsip. Niat yang mulai kusemai sejak pertamakali menginjakan kaki di Pondok ini. Dan, aku yakin jika aku ingin sukses nyantri di sini, aku harus memegang prinsip itu bagaimanapun caranya. Tapi, perasaan ini... yang sekarang kurasakan ini, sulit rasanya membohongi diri. Saat ini aku merasa cemburu. Ya, aku cemburu melihat Tyas sedang asyik ngobrol di taman sana.

“Kok bengong Hya? tanya Rida yang aku tak tahu kapan ia datang. Rida teman sekelas Tyas sejak di Pesantren al-Husna dulu.

“Itu tuh lagi merhatiin temen lo di taman, cemburu kali”. Arfan menunjuk ke arah taman dengan dagu dan kedutan alisnya. Kulihat Rida berpaling ke arah taman, tak lama setelah itu kulihat senyuman terkembang di wajahnya.

“Oh.. ngelamunin itu toh? Kenapa emangnya, ada yang salah dengan Tyas ma Haris? Rida melontarkan pertanyaan pada kami berdua. Dari kalimat Rida barusan, aku jadi tahu ternyata yang bersama Tyas itu Haris.

“A-Anu aku ngebayangin aja, kayaknya ngobrol berdua seperti mereka asyik ya, jadi kepengen hehe...” aku tersenyum semu, mencoba menutupi apa sebenarnya yang sedang bergejolak di dalam hatiku.

“Udah deh Hya nggak usah mengelak kayak gitu, kau mau tersenyum seperti apa juga tetap aja matamu terlihat kuyu, hehe...” lagi-lagi Arfan mengejekku. Sialan Arfan ini, sudah susah payah aku berakting.

“Kok wajahmu jadi merah kayak gitu sih Hya? Jangan-jangan apa yang dikatakan Arfan beneran nih? Beneran ya Hya?”, Rida menyelidik.

“Kamu lebih percaya sama aku atau Arfan? Aku kan dah bilang kalau aku cuma lagi ngamati bagaimana orang kalau lagi pacaran, kayaknya sih asyik gitu” kupikir nada suaraku sedikit bergetar, gugup.

“Kok kayaknya aku lebih percaya sama Arfan ya” Rida menyeringai menggodaku, terlihat  memamerkan gigi gingsul dan lesung pipit yang membuatnya terlihat manis sekali.

“Wah... nggak CS nih!” kataku.
“Hehe... akhirnya detektif Arfan yang menang” Arfan terlihat girang sekali. Senyum terkembang dan alis ia gerak-gerakan genit.

“Nggak deh nggak, mana mungkin aku lebih percaya sama pecinta wanita kayak Arfan”, Rida ganti menggoda Arfan. Kulihat Arfan jadi sedikit merengut. Kini giliranku yang menang. Kuacungkan jempol tangan terbalik ke arah Arfan. “Kena Lo!!”.

Memang sampai saat ini belum seorang pun yang tahu kalau aku suka sama Tyas. Mereka hanya tahu kalau saat ini Tyas lagi deket sama Haris. Tapi, dengar-dengar sih Tyas memiliki komitmen yang sama denganku. Tyas nggak mau pacaran. Baginya, pacaran itu buang-buang waktu dan mengganggu fokus belajarnya. Tyas terkenal sebagai anak yang alim, cerdas, dan luas wawasan ilmu agamanya. Ia pun selalu mendapat rangking pertama di kelas. Jadi, wajar kalau banyak yang suka sama dia. Termasuk beberapa ustadz muda yang masih membujang. Dan, tentunya aku pun begitu.

Tapi, aku harus bisa membuang jauh-jauh perasaan ini. Aku nggak boleh terjebak dalam hubungan yang kurang begitu bermanfaat, malahan mungkin lebih banyak madharat-nya. Apa yang akan terjadi jika suatu saat aku tak bisa menahan hawa nafsuku ketika sedang asyik berdua-duan. Mungkin, pertama-tama kami saling bertatapan. Lalu datanglah bisikan ke telingaku. Lalu, setiap kami mengikuti bujukan dari bisikan yang dihembuskan di telinga itu. Maka dapat dipastikan kami akan terjerumus pada hal yang tidak disukai Allah dan Rasul-Nya itu. a’udzubillaah min dzaalik.

“Emang bener yah, Tyas sama Haris pacaran?”, tanyaku. Sontak kulihat raut wajah Rida berubah. Seperti sedikit surprise dan penuh tanya. Dengan ekspresinya yang seperti itu, Ia palingkan pandang ke arah Arfan, dan yang dipandang memberi senyum simpul. Aku tak mengerti.

“Kenapa? pertanyaanku salah ya?”, lanjutku. Mereka saling pandang lagi. Entah janjian melalui ilmu telepati atau bagaimana, Rida dan Arfan membentuk gesture yang sama ke arahku, ibu jari dan telunjuk mereka membentuk pistol dan digoyang-goyangkan ke arahku. Dan lagi, dua-duanya tersenyum simpul.  
©

[Bersambung...]

Izinkan...

0 komentar

Tuhan,
Jika dia amanah yang hendak Kau titipkan, mampukanlah aku menjaganya, hingga dia selalu mampu menjaga diri, menjaga setiap amanah yang Kau pun berikan padanya.

Duhai Yang Maha Indah,
Jika dia pantulan dari keindahan-Mu yang Engkau ingin aku memuliakannya,
Sekali-kali jangan biarkan aku memperdayanya, mengaburkan keanggunan pesonanya, meredupkan indah cahayanya, mensebab hilang kemurniannya...
Ilhamkan padanya bahwa dia bagian dari kemahaindahanmu, bahwa dia akan selalu begitu.

Wahai Engkau Yang Maha Suci,
Jika dia adalah titah suci-Mu
Sucikan aku dari sifat dan sikap keji
Jauhkan aku dari segala yang jijik dan muslihat yang menjijikan
Izinkan aku mengemban titah itu dalam kemurnian iman, sebenar-benar ketulusan rasa dan keikhlasan hati

Wahai Sang Maha Penjaga
Jagakan aku dari segala nista
Lindungi aku dari berbuat aniaya
Lingkupi aku dengan pengawasan-Mu, perlindungan-Mu, hidayah dan taufiq-Mu

Tuhan,
Engkau lah al-Rahmaan
Engkau al-Rahiim
Fa Yaa Arhamarroohimiin, cintailah dan sayangilah dia,
cintai dan sayangi aku,
cintai kami.

Tlogowono, August 19, 2017

Ayah (1)

0 komentar

Aku sungguh beruntung mempunyai Ayah seperti dia. Ayahlah guru pertama dan utama dalam hidupku. Dia mendidikku apa dan bagaimana seharusnya hidup, tak pernah henti. Ayahlah lelaki idaman. Pemimpin keluarga yang memberi contoh dengan tindakan. Bukan hanya ocehan paksaan yang ia asupkan ke telinga kami, tapi nasihat yang ia contohkan lagi konsisten ia kerjakan.

Ayah, kau mungkin cukup tegas dan cenderung keras dalam mendidikku, semua anakmu. Meski begitu, semarah apa pun engkau kepada kami, sejengkel apa pun engkau, tak pernah sebatang lidipun melecut betis kami. Apalagi tangan kukuhmu di pipi kami. Tidak, tak sekalipun.

Ayah, masih ingatkah...? Saat bedug magrib tiba kau membiarkanku menangis lama. Sesenggukan sekeras-kerasnya di teras rumah. Saat kampung mulai rehat dari hiruk pikuk, kau biarkan aku menjerit-jerit takut. Kau bilang tak sudi mempunyai anak yang tak berangkat ngaji sepertiku. Padahal baru kali itu aku malas dan membolos. Padahal saat itu aku belum juga bersekolah formal, aku baru setahun lepas dari masa balita ku kira. 

Tapi kau tega! mengunci dan tak mengizinkanku masuk rumah. Membiarkanku yang masih lusuh dengan keringat jadi santapan nyamuk-nyamuk lahap. Ya kau tak pernah memberi toleransi untuk yang satu ini, ngaji!

Ayah, hingga saat ini pun aku belum bisa menirumu. Bangun sebelum pukul tiga pagi, mengaji, berjama'ah subuh hingga dhuha sebelum mulai beraktifitas. Begitu setiap hari. Bahkan saat kondisi tubuhmu sedang tak baik. Ya, di usiamu yang sekarang, sering secara tiba-tiba kau menggigil kedinginan. Membuat kami cemas. Berlapis-lapis selimut dan bantal yang kami tumpuk, saat seperti itu, tak pernah cukup untuk mengusir gigilmu. Tapi, esok paginya kau tetap dengan rutinitasmu "ayah sudah baikan" katamu.

Ayah, mungkin sekarang kau mulai gugup dan gagap berbicara. Kau bilang "sekarang ayah sudah tak bisa berkata dengan runut, nak!" Tapi akan selalu lekat dalam ingatan kami. Kau begitu fasih mendamaikan pasangan yang punya masalah keluarga. Berkali-kali kusaksikan  pasangan yang bertengkar kau persatukan. Kebijaksanaanmu selalu melingkupi mereka-mereka yang memintanya.

Biarlah sekarang kau sering gugup berbicara ayah, tak apa. Peranmu sebagai penyambung lidah warga sudah lebih dari cukup.

Ayah, aku mencintaimu.
dan akan terus mencintaimu, sampai kapan pun.

Ayah,
Serakus apa pun umur menggerogoti kematangan dan kebijaksanaan sikapmu,
merenggut keseimbangan fisik dan kesadaranmu,
merebut pesona kharismamu
Ketahuilah Ayah...
Kau tetap ayahku yang terhebat.
Panutan kami sampai kapanpun.
Hingga kapanpun.
Selamanya.

Ayah, aku mencintaimu.
Akan selalu begitu.

رب اغفر لي و لوالدي و ارحمهما كما ربياني صغيرا. آمين.

Tlogowono, August 19, 2017

" ..... ......... "

0 komentar

Duhai, mungkin aku memang sudah buta
Tak hirau lagi dengan setiap tanda
Aku hanya tahu kalau saat ini menyukainya, bahkan terlalu mengaguminya
Hingga lupa bagaimana dia sebenarnya terhadapku

Tak takutkah aku akan bengisnya kecewa?
Bukankah aku sering mendengar cerita,
Betapa pedihnya luka akibat cinta
Betapa akan hebatnya badai busur kembali ke hatiku, 
Busur-busur rasa...
Rasa yang kian hari terasah semakin tajam oleh angin-angin cinta
Rasa yang semakin lama mengembun luka
Mencipta bisa yang lengket di setiap mata tajamnya
Tak takutkah aku?

Entahlah, mungkin aku memang sudah buta
Hanya bersandar pada harap
Akhir yang bahagia dan bukan duka

Kediri - Yogya, Malioboro Express
May 14, 2017